May 3, 2008

POTENSI PEMAKAI DIGITAL LIBRARY DI INDONESIA

Posted in Kuliah-koe at 4:16 pm by byupustakawan

potensi pemakai digital library di indonesia *)

Oleh

Bambang Setiarso **)

Abstrak

Kajian bertujuan untuk mengetahui potensi pemakai perpustakaan digital bidang informasi ilmu pengetahuan dan teknologi dan sumber daya informasi iptek. Data yang telah dikumpulkan secara acak meliputi : jumlah angkatan kerja, pendapatan per kapita, jumlah pegawai negeri sipil, jumlah mahasiswa, jumlah pengajar/peneliti, industri besar dan menengah, jumlah laboratorium,koleksi perpustakaan dan Litbang Departemen di Indonesia.

Hasil kajian menunjukkan bahwa potensi pemakai perpustakaan digital adalah Jawa, Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Sumatera Selatan (Kawasan Indonesia Barat); Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara dan Bali (Kawasan Indonesia Timur).

Abstract

The purpose of this study is to find out the potential users of digital library in the field of Science and Technology Information (STI) and S&T Information Resources. Data has been collected by stratified random sampling such as : the number of employees, GNP, the number of government employees, the number of students, the number of lecturers/researchers, the number of big and medium enterprises, the number of laboratory, the number of library collections, and R&D departement in Indonesia.

The study shows that the potential of digital library users are Java, North Sumatera, West Sumatera and South Sumatera (WESTERN INDONESIA); also South Sulawesi, North Sulawesi and Bali (EASTERN INDONESIA).

*) Makalah yang disampaikan pada International Seminar on Digital Library

and Knowledge Management ,Bandung 6-7 June 2001.

**) Bekerja di PDII-LIPI dan Ketua Forum Perpustakaan Khusus.

PENDAHULUAN

Informasi Iptek adalah unsur yang sangat penting untuk menunjang penelitian dan pengembangan di bidang Iptek dan Industri, serta pembangunan pada umumnya. Informasi Iptek juga sangat diperlukan oleh berbagai pihak seperti: peneliti,dosen,mahasiswa, pemegang kebijakan atau pengambil keputusan, masyarakat industri dan umum.

Perkembangan Iptek yang sangat cepat, diikuti pula dengan perkembangan jurnal ilmiah, yang saat ini jumlahnya di dunia mencapai 400.000 judul. Jurnal tersebut sangat dibutuhkan ilmuwan untuk mengikuti perkembangan Iptek dibidangnya masing-masing. Informasi Iptek tersebut dapat berupa artikel majalah, laporan penelitian, prosiding, buku dsb. Yang sangat berguna untuk mengikuti kemajuan Iptek di dunia. Membanjirnya informasi Iptek baik melalui media cetak (terbitan jurnal ilmiah), media elektronik (internet), CD-ROM dan sebagainya, mengharuskan kita untuk mengelola, menyajikan, memberikan

layanan, menelusur dan menyebarkannya kepada masyarakat.

Pentingya informasi Iptek, sebenarnya sudah disadari oleh semua pihak baik oleh pemegang kebijaksanaan di bidang Iptek, maupun masyarakat(Science and Technology Information) STI di Indonesia, namun ketersediaan informasi Iptek (terutama jurnal ilmiah asing) saat ini masih sangat terbatas. Belum lagi persoalan diseminasi jurnal ilmiah asing yang belum merata, jaringan informasi Iptek yang tidak berjalan dengan mulus, disamping penyedia informasi baik sebagai pusat informasi atau perpustakaan juga masih sangat memperihatinkan.

Beberapa upaya dan terobosan untuk memformulasikan konsep tentang sistem jaringan perpustakaan digital informasi Iptek dan pembenahan serta perbaikan sistem layanan dan koleksi telah dilakukan, namun selalu kandas dari satu konsep ke konsep lain.

Hal tersebut disebabkan terbentur pada masalah dana, prasarana dan sarana, sumber daya manusia dan lain sebagainya, pada saat dimana konsep tersebut akan diimplementasikan.

Selain itu hasil studi ini diharapkan dapat membantu para pemegang keputusan di bidang informasi Iptek untuk suatu perencanaan jaringan dan diseminasi informasi Iptek secara makro dan mikro.

Bagi daerah kabupaten, kajian ini diharapkan sebagai masukan untuk mengembangkan “Pusat Informasi Iptek Daerah” yang sangat berguna untuk pemberdayaan potensi SDM serta memacu penelitian potensi daerah.

Pengumpulan data dilakukan melalui berbagai literatur sekunder, meliputi:

· Perguruan Tinggi Negeri atau Swasta

· Departemen dan Non-Departemen

· Laboratorium/ Balai Penelitian

· Industri Besar dan Menengah

· Masyarakat Umum

potensi pengguna dan sumber daya informasi iptek

Dalam memberikan gambaran tentang potensi baik pengguna STI maupun sumber daya informasi Iptek, telah dikumpulkan berbagai data yang meliputi jumlah angkatan kerja, jumlah pendapatan per kapita, jumlah PNS, jumlah mahasiswa dan pengajar, jumlah industri besar dan menengah, jumlah laboratorium, jumlah koleksi perpustakaan, serta keadaan litbang di lingkungan departemen di Indonesia.

Dasar pertimbangan pengambilan data tersebut adalah pengguna informasi iptek erat kaitannya dengan jumlah penduduk berdasar tingkat pendidikan, lapangan pekerjaan, maupun tingkat pendapatan dan pengeluaran per kapita.

1. JUMLAH ANGKATAN KERJA BERDASARKAN TINGKAT PENDIDIKAN

Gambaran angkatan kerja setiap propinsi tahun 1996 dikaitkan dengan tingkat pendidikannya, terutama pada jumlah angkatan kerja yang lulus dari perguruan tinggi/universitas yang dapat dianggap sebagai “STI users” yang potensial. Diperoleh gambaran bahwa P. Jawa sangat dominan yakni lebih dari 59,26 persen dari total jumlah angkatan kerja di Indonesia. Di P. Sumatera, propinsi yang cukup dominan adalah Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat, sedangkan untuk Indonesia bagian timur , beberapa propinsi yang dominan adalah Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, dan Irian Jaya. Persebaran jumlah angkatan kerja lulusan perguruan tinggi pada tiap propinsi tahun 1996.

2. JUMLAH ANGKATAN KERJA BERDASARKAN LAPANGAN USAHA, TAHUN 1996.

2.

Jika dilihat keadaan angkatan kerja setiap propinsi berdasarkan lapangan usahanya, tahun 1996 diperoleh gambaran bahwa Pulau Jawa juga dominan dilihat dari jumlah angkatan kerjanya, yaitu lebih dari 59,26 persen dari total angkatan kerja di Indonesia.

Gambaran yang sama juga terlihat bila dikaitkan dengan jumlah angkatan kerja berdasarkan lapangan usaha yaitu jumlah angkatan kerja yang bekerja pada usaha industri di pulau Jawa lebih dari 59,26 persen dari total angkatan kerja di Indoneia. Di P. Sumatra persebaran paling menonjol adalah Propinsi Sumatera Utara, sedangkan di Indonesia bagian Timur (termasuk Kalimantan) yang menonjol adalah Propinsi Kalimantan Selatan dan Sulawesi Utara. Persebaran jumlah angkatan kerja pada sektor industri setiap propinsi tahun 1996.

3. JUMLAH PENDUDUK MENURUT GOLONGAN PENGELUARAN PER KAPITA

Data jumlah penduduk menurut golongan pengeluaran per kapita pada setiap propinsi di Indonesia, diperoleh dari hasil Survai Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 1997, yang dilakukan oleh BPS.

Data SUSENAS tersebut diharapkan dapat dipakai untuk menggambarkan keadaan sosial ekonomi dari demografi penduduk pada suatu waktu tertentu.

Dari data jumlah penduduk golongan pendapatan tertinggi yaitu Rp. 8.809.315,- atau lebih dalam setahun, terlihat bahwa kemampuan penduduk di P. Jawa yang menonjol terdapat di Propinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Di pulau Sumatera yang cukup menonjol adalah Propinsi Sumatera Utara, Sumatera Selatan, dan Lampung. Sedangkan di Indonesia bagian Timur (termasuk Kalimantan) adalah Kalimantan Timur dan Bali. Propinsi dengan jumlah penduduk paling sedikit dengan golongan pendapatan ini adalah Nusa Tenggara Timur. Persebaran jumlah penduduk dengan tingkat pendapatan perkapita pada setiap propinsi, tahun 1995-1996.

4. JUMLAH PEGAWAI NEGERI SIPIL (PNS) DAERAH OTONOMI YANG BEKERJA DI LITBANG DAN NON-LITBANG BERDASARKAN TINGKAT PENDIDIKAN, TAHUN 1998.

Jumlah PNS yang bekerja di unit litbang dan non-litbang berdasarkan tingkat pendidikannya dapat memberikan gambaran riil perbedaan antara jumlah PNS yang bergerak disektor litbang dan non-litbang yang dianggap sebagai “STI users” potensial. Dapat digambarkan bahwa jumlah PNS di litbang yang dominan adalah di Propinsi DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, sedangkan di luar Jawa adalah Propinsi Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, Riau dan sebagainya.

5. JUMLAH MAHASISWA DAN TENAGA PENGAJAR, TAHUN 1996/1997

Selain mahasiswa, tenaga pengajar juga diasumsikan sebagai pengguna informasi Iptek, baik yang bekerja di PTN atau PTS yang potensial atau cukup penting untuk dijadikan indikator terlihat bahwa Propinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah & DIY, Jawa Timur, Sumut, Sulsel merupakan daerah-daerah yang berpotensi sebagai pengguna informasi Iptek di Indonesia.

6. JUMLAH INDUSTRI BESAR/MENENGAH MENURUT ISIC BER-DASARKAN PROPINSI, TAHUN 1994-1997.

Berdasarkan data ISIC nomor 31,32,33,34,35,36,37,38 dan 39, jika dilihat dari data tahun 1994 – 1997 ternyata hanya mengalami peningkatan rata-rata antara 10% sampai 20%, sehingga tidak cukup dapat dikatakan sebagai potensi pengguna informasi Iptek.

7. JUMLAH LABORATORIUM, INSTANSI DAN TENAGA PENGUJI, TAHUN 1992

Dari data jumlah laboratorium dan jumlah tenaga penguji, juga tidak dapat dikatakan cukup signifikan sebagai pengguna informasi, padahal di negara-negara maju pengelola laboratorium dan pengajar di laboratorium sangat membutuhkan informasi Iptek. Kebutuhan informasi tersebut diperlukan untuk memantau perkembangan Iptek, baik dalam bentuk majalah ilmiah, “text-book”, maupun “grey literature” dari para pakar di bidang Iptek.

8. JUMLAH KOLEKSI PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI NEGERI (PTN).

Jumlah koleksi perpustakaan PTN merupakan salah satu indikator untuk mengetahui apakah pengguna informasi sudah memanfaatkan koleksi yang ada, atau apakah jumlah koleksi yang ada sudah memenuhi kebutuhan pengguna informasi secara optimal. Yang dimaksud dengan koleksi adalah bahan pustaka yang dihimpun oleh suatu perpustakaan sebagaimana lazimnya, dalam bentuk buku maupun majalah Indonesia dan asing . Dari data yang ada, terlihat bahwa koleksi buku di perpustakaan PTN sangat bervariasi jumlahnya, sehingga sulit untuk digambarkan apakah dengan besarnya jumlah koleksi, dapat memcerminkan kepuasan pengguna informasi.

9. LITBANG DEPARTEMEN, TAHUN 1996

Dari data tentang dimensi litbang departemen dan perpustakaan, dapat dikatakan bahwa jumlah peneliti yang cukup menonjol dan diangap sebagai pengguna informasi potensial adalah Balitbang Industri dan Perdagangan dan Balitbang Pertanian, sedangkan yang lain jumlah peneliti hampir berimbang (berkisar antara 5 – 328 peneliti). Jumlah buku hampir merata dimasing-masing Balitbang berkisar antara 7.000 judul sampai 29.000 judul, sedangkan jumlah majalah Indonesia terbanyak dimiliki oleh Balitbang Teknologi Mineral dan Lemigas, sedangkan majalah asing banyak dimiliki oleh Balitbang Industri dan Perdagangan, serta Balitbang Pemukiman.

10. LITBANG NON-DEPARTEMEN, TAHUN 1996

10. Gambaran jumlah peneliti pada Litbang Non-Departemen yang

menonjol adalah di BPS , yaitu mencapai 2.248 peneliti, sedangkan

di-litbang lain berkisar antara 10 sampai 230 peneliti. Jumlah judul buku

juga sangat bervariasi dan koleksi terbanyak dimiliki oleh LIPI, yaitu

190.000 judul. Koleksi majalah Indonesia dan asing banyak dimiliki BPS,

masing-masing 33.600 judul & 8.400 judul.

11. SUMBER DAYA MANUSIA (SDM), TAHUN 1995 – 1997.

Data SDM digunakan untuk menggambarkan jumlah dosen yang berpendidikan S0, S1, S2, dan S3 baik di PTN maupun PTS, serta jumlah mahasiswanya, karena dianggap sebagai pengguna informasi potensial.

Dari data tersebut diatas, dapat digambarkan bahwa jumlah dosen S1 di PTN sebanyak 28.437 orang dan PTS sebanyak 92.155 orang. Jumlah sebagian besar berprofesi sebagai: dosen S2 di PTN 13.205 orang dan PTS sebanyak 26.327 orang, sedangkan jumlah dosen S3 di PTN sebanyak 3.903 orang dan PTS sebanyak 5.644 orang. Jumlah mahasiswa S0 dan S1 yang terdaftar di PTN sebanyak 235.449 orang dan di PTS sebanyak 349.252 orang.

ANALISis POTENSI pemakai digital library

Analisis yang diperlukan untuk membuat rancangan model demografi dari pemakai digital library yang potensial adalah analisis terhadap karakteristik penduduk secara umum sebagai sumberdaya manusia yang tercermin pada tingkat pendidikan dan kondisi sosial lainnya, dan secara khusus terhadap karakteristik sumberdaya manusia masyarakat STI dan lingkup kegiatannya yang terdapat di universitas, industri besar dan menengah, laboratorium/balai penelitian, dan departemen/non-departemen.

Pada Analisis 1 sampai dengan Analisis 10 yang secara umum dibagi menjadi 3 katagori berdasarkan interfal angka maksimal dan minimal dengan menggunakan analisis statistik, sehingga dapat ditentukan daerah-daerah potensial dari berbagai aspek seperti:

Pada Analisis 1, Distribusi Angkatan Kerja Menurut Propinsi, tahun 1996 dibagi menjadi 3 katagori : 1) Kurang dari 3.000.000 ; 2) antara 3.000.000 sampai 7.500.000 dan 3) diatas 7.500.000 meliputi propinsi : Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jawa Timur.

Pada Analisis 2, Distribusi Pendapatan Perkapita Menurut Propinsi, tahun 1996 dikategorikan menjadi: pendapatan perkapita kurang dari Rp.2.000.000,- ; antara Rp.2.000.000,- s/d Rp.3.000.000,-; dan diatas Rp.3.000.000,-. Ternyata Kalimantan Tengah, Irian Jaya, Kalimantan Timur dan DKI Jakarta, termasuk katagori 3.

Pada Analisis 3 mengenai Distribusi PNS di Unit Litbang yang berpendidikan D3 keatas menurut propinsi tahun 1998, dibagi menjadi 3 kategori yaitu: kurang dari 50 orang; antara 50 – 100 orang dan diatas 100 orang meliputi propinsi: Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan DKI Jakarta.

Selanjutnya pada Analisis 4 tentang Distribusi PNS di unit non-Litbang yang berpendidikan D3 keatas menurut propinsi tahun 1998, dibagi menjadi 3 kategori yaitu: kurang dari 10.000 orang; antara 10.000 – 20.000 orang dan diatas 20.000 orang. Propinsi Sumatera Utara, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur, merupakan katagori 3.

Distribusi Mahasiswa yang terdaftar di PTN, tahun 1997 ( Analisis 5) dibagi menjadi 3 kategori yaitu: kurang 10.000 mahasiswa; antara 10.000 – 50.000 mahasiswa; dan di atas 50.000 mahasiswa. Katagori 3 terdiri dari propinsi DI.Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur dan DKI Jakarta. Sedangkan distribusi Mahasiswa yang terdaftar di PTS, tahun 1997 ( Analisis 6) dengan 3 katagori yaitu : kurang dari 10.000 mahasiswa; antara 10.000 – 100.000 mahasiswa dan diatas 100.000 mahasiswa. Ternyata Propinsi Sumatera Utara, Jawa Barat, DKI Jakarta dan Jawa Timur, termasuk katagori 3.

Data mengenai Distribusi Jumlah Mahasiswa Baru di PTN dan PTS seperti yang tercantum pada Analisis 7 dan 8 untuk PTN yang diatas 20.000 mahasiswa baru meliputi Propinsi Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, D.I. Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat dan DKI Jakarta, sedangkan dilingkungan PTS distribusi mahasiswa baru yang diatas 20.000 mahasiswa baru meliputi Propinsi NTB, Lampung, Sumatera Selatan, Aceh, Bali, Sumatera Barat, Sulawesi Selatan, DI Yogyakarta, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Jawa Barat, DKI Jakarta dan Jawa Timur.

Tenaga pengajar juga dianggap sebagai pengguna potensial dapat dilihat pada Analisis 9 mengenai Distribusi Tenaga Pengajar PTN menurut propinsi tahun 1997 dan Analisis10 mengenai Distribusi Tenaga Pengajar PTS menurut propinsi , tahun 1997. Dari kedua analisis tersebut diatas, maka pada Analisis 9 jumlah pengajar di atas 3000 meliputi: DI Yogyakarta, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat, sedangkan tenaga pengajar di lingkungan PTS (Tabel Analisis 10) jumlah pengajar di atas 3000 pengajar meliputi: Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, DI Yogyakarta, Sumatera Utara, Jawa Tengah, Jawa barat, Jawa Timur dan DKI Jakarta.

Dari hasil analisis seperti pada Analisis 1 sampai pada Analisis 10 dapat ditarik kesimpulan bahwa yang paling berpontensi sebagai pemakai perpustakaan digital adalah Propinsi Jawa Barat, Jawa tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta dan DKI Jakarta, sedangkan Pulau Sumatera terdiri dari Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Aceh dan Lampung. Sedangkan di kawasan Indonesia Timur meliputi Propinsi Sulawesi Selatan, dan Bali.

A. POTENSI PEMAKAI DL

Departemen/Lembaga non-Departemen

Data SDM di departemen sektoral meliputi sarjana S1, S2 dan S3 yang bekerja di Litbang atau unit teknis lain, dan pejabat eselon II keatas yang berlokasi dikantor Pusat, Jakarta. Pada kantor-kantor Menteri Negara potensi pengguna informasi Iptek paling tidak eselon III keatas yang digunakan sebagai bahan pengambil keputusan atau perencanaan penelitian. Sedangkan potensi pada lembaga /badan non-departemen meliputi mereka yang terlibat dalam kegiatan penelitian atau pengembangan dan pejabat fungsional lain .

Persebaran pengguna informasi Iptek pada tiap-tiap propinsi yang berasal dari Departemen dan Lembaga Non-Departemen, terlihat bahwa Jakarta sebagai Ibu kota dan pusat pemerintahan merupakan daerah dengan potensi yang paling besar di Indonesia, dikuti propinsi lain di pulau Jawa, yaitu Propinsi Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah dan D.I.Yogyakarta.

Di wilayah P. Sumatera, ternyata Propinsi Sumatera Utara mempunyai potensi terbesar, diikuti Propinsi Sumatera Selatan dan Sumatera Barat. Sedangkan untuk wilayah Indonesia bagian Timur (termasuk Kalimantan dan Nusa Tenggara), Propinsi Sulawesi Selatan dan Bali mempunyai potensi pengguna informasi Iptek yang cukup menonjol.

Perguruan Tinggi Negeri

Jumlah PTN di Indonesia pada tahun 1998 sebanyak 76 buah dan tersebar tidak merata di 26 propinsi. Dari jumlah tersebut , ternyata 22 buah diantaranya (44,9 persen) berlokasi di P. Jawa.

Jumlah dosen tetap seluruhnya 158.357 orang, atau 30,2 persen diantaranya adalah dosen tetap PTN yang berlokasi di P. Jawa, dengan urutan Propinsi Jawa Timur, Jawa barat, Jawa Tengah, Jakarta dan DIY. Di-wilayah Sumatera, jumlah dosen terbanyak terdapat di Propinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Sumatera Selatan, sedangkan di-wilayah Timur urutan jumlah dosen terbanyak terdapat di Propinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara dan Bali.

Indikasi yang sama juga terlihat pada jumlah mahasiswanya , dari jumlah mahasiswa 2.350.989 orang untuk seluruh Indonesia, ternyata 1.603.290 orang (35 persen) merupakan mahasiswa dari perguruan tinggi yang ada di pulau jawa. Wilayah Sumatera , secara berurutan jumlah mahasiswa terbanyak terdapat di Propinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat, Aceh dan Sumatera Selatan. Sedangkan di-wilayah Indonesia lain Propinsi yang cukup menonjol adalah Sulawesi Selatan, Bali dan Sulawesi Utara.

Perguruan Tinggi Swasta (PTS)

Pemakai DL pada PTS juga menunjukkan data yang sama dengan di PTN. Terlihat bahwa P. Jawa tetap sebagai potensi pemakai yang dominan, sedangkan Propinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, dan Aceh merupakan daerah yang menonjol di wilayah Sumatera. Sedangkan wilayah Indonesia lain, Propinsi Sulawesi Selatan merupakan daerah yang paling potensial, diikuti oleh Propinsi Bali dan Sulawesi Utara.

Industri Besar dan Menengah

Dari 5 bidang industri besar dan menengah di P. Jawa, tahun 1996 memiliki jumlah tenaga kerja sebesar 50.787.584 orang. Jumlah tersebut merupakan 59,67% dari 9 bidang industri dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 85.701.813 orang diseluruh Indonesia. Propinsi Jawa Barat mempunyai jumlah industri yang terbesar, diikuti oleh Propinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, DKI Jakarta, dan DI Yogyakarta. Sedangkan di-wilayah Sumatera, jumlah industri terbesar berlokasi di Propinsi Sumatera Utara, sedangkan untuk wilayah Indonesia lain, jumlah industri yang cukup menonjol berlokasi di Propinsi Bali dan Sulawesi Selatan.

B. LOKASI PENYEDIA JASA informasi iptek

Mengacu pada persebaran potensi pemakai DL di setiap propinsi di Indonesia, maka pemilihan awal dari lokasi penyedia layanan informasi Iptek seperti perpustakaan, pusat dokumentasi, pusat informasi atau pusat data elektronik (electronic data processing) dan sebagainya. Penyedia jasa informasi Iptek dapat dibagi menjadi beberapa katagori sebagai berikut :

a. National Centre : Daerah Khusus Ibukota Jakarta

b. Regional Center terdiri dari :

v Wilayah P. Sumatera :

– Medan (Propinsi Sumatera Utara)

– Padang (Propinsi Sumatera Barat)

v Wilayah P. Jawa:

– Bandung (Propinsi Jawa Barat)

– Surabaya (Propinsi Jawa Timur)

– Semarang (Propinsi Jawa Tengah)

– DI Yogyakarta

v Wilayah Indonesia bagian Timur:

– Makasar (Propinsi Sulawesi Selatan)

Beberapa kota yang dipilih sebagai “regional centers” tersebut, merupakan ibukota propinsi, sedangkan DKI Jakarta sebagai “National Centre”, karena kedudukannya secara hirarki sebagai ibu kota negara mempunyai fungsi yang sangat strategis. Secara otomatis semua kegiatan baik pendidikan, penelitian, pusat informasi, dokumentasi dan perpustakaan juga cukup dominan di Jakarta.

Dipilihnya ibukota propinsi sebagai “Regional Centers” didasarkan atas pertimbangan sbb.:

1. Ibukota propinsi merupakan pusat pemerintahan daerah, pemukiman, perdagangan, kegiatan penduduk dan Iptek (penelitian, pendidikan, pengembangan dan perencanaan pembangunan).

2. Pada umumnya merupakan lokasi PTN dan PTS.

3. Kegiatan industri baik besar dan menengah juga banyak yang berlokasi di ibu kota propinsi.

4. Merupakan “growth pole” di propinsi yang besangkutan.

Beberapa kemungkinan kondisi di luar Jawa belum cukup mengembirakan jika dilihat dari sudut pengelola dan pemakai informasi. Kurangnya interaksi secara optimal disebabkab beberapa hal sebagai berikut:

1. Fasilitas dan koleksi perpustakaan kurang memadai dan “up-to-date” informasinya, terutama jurnal ilmiah asing yang baru.

2. Koleksi dan layanannya kurang memenuhi kebutuhan pemakai, terutama dikalangan mahasiswa dan dosen dalam proses belajar mengajar.

3. Lokasi yang mungkin kurang strategis sehingga sulit dijangkau atau diakses.

4. Alat akses informasi dan temu kembali informasi belum mendukung.

5. Terbatasnya kemampuan staf pengelola informasi baik kualitas maupun kuantitasnya, dalam melakukan layanan informasi pro-aktif, mengemas informasi serta kemampuan menganalisis informasi yang dibutuhkan pemakai.

6. Kurangnya kegiatan promosi dan “user education” bagi pengguna untuk memperoleh dan menelusur informasi secara cepat,tepat dan mudah.

C. kemampuan sumber daya informasi iptek

Dari hasil pengolahan data koleksi di setiap propinsi,diperoleh hasil bahwa jumlah koleksi tertinggi terdapat di Jawa Timur 1.098.261 judul, berikutnya berturut-turut D.I. Yogyakarta 932.691 judul; Jawa Barat 458.762 judul dan DKI Jakarta 319.623 judul. Perbandingan antara jumlah koleksi (1.098.261 judul) di Jawa Timur dan jumlah mahasiswanya (347.785 orang) adalah 3 : 1 menunjukkan angka yang signifikan. Berarti bahwa untuk 1 mahasiswa tersedia 3 buku. Hal tersebut menunjukkan kebutuhan informasi untuk pemekai dianggap cukup.

Adapun jumlah koleksi yang tersedia di perguruan tinggi di Indonesia sebesar 4.151.665 judul buku (5.655.860 eksemplar) dan 3.958 judul majalah . Data tersebut menunjukkan bahwa jumlah koleksi yang tersedia belum memenuhi kebutuhan informasi secara memadai, apabila dibandingkan dengan jumlah sebaran penduduknya. Pada perbandingan antara jumlah mahasiswa (2.348.563 orang) dengan jumlah koleksi (4.155.623 judul) adalah 1 : 2, berarti belum cukup memenuhi kebutuhan informasi pemakai.

Kondisi tersebut menyebabkan pemakai informasi lebih banyak memanfaatkan pusat-pusat informasi di luar perguruan tinggi, seperti pusat informasi Lembaga Pemerintah, pusat-pusat informasi khusus dan bahkan ke pusat-pusat informasi di luar negeri.

KESIMPULAN

Dari hasil Analisis Potensi pemakai DL di Indonesia, dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Melihat gambaran data dan hasil analisis potensi pemakai DL berdasarkan konsep DL sebagai penyedia informasi Iptek, maka P. Jawa merupakan wilayah yang paling potensial bagi pemakai informasi di Indonesia, dan berturut-turut diikuti oleh Propinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Sumatera Selatan (wilayah P. Sumatera). Sedangkan di kawasan Indonesia Timur adalah Propinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara dan Propinsi Bali.

2. Lokasi penyedia informasi Iptek yang paling strategis saat ini di Indonesia adalah DKI Jakarta sebagai “National Centre” dan Kota Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Medan, Padang dan Makasar sebagai “Regional Centre”. Kemungkinan di masa-masa yang akan datang dapat dikembangkan lebih banyak lagi “Regional Centre” bagi penyedia informasi sesuai dengan jiwa dan semangat UU no. 22 tahun 1998 tentang otonomi daerah.

3. Ternyata besarnya jumlah koleksi yang tersedia tidak menjamin terpenuhinya kebutuhan informasi di daerahnya. Hal tersebut disebabkan karena informasi bidang keilmuan tertentu mempunyai nilai tambah yang spesifik dan dokumennya sulit diperoleh dari sumber di dalam negeri, serta harga yang cukup mahal. Dengan kondisi tersebut menyulitkan pusat-pusat informasi di daerah untuk mengadakan koleksi ilmiah tersebut.

4. Berdasarkan data pendapatan perkapita tertinggi yang terdapat di Propinsi Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah dan Irian Jaya, namun kebutuhan informasinya sangat rendah, hal tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat korelasi langsung antara tingkat pendapatan perkapita dan kebutuhan informasi Iptek.

DAFTAR BACAAN

Dervin,Brenda and Michael, Nilan (1986). “ Information needs ans uses”

Dalam M.Williams(ed). Annual Review of Information Science and Techno-

Logy .21,3-33.

Effendi,Sofian (1989). Prinsip-prinsip pengukuran dan penyusunan skala. Dalam Metode Penelitian Survei. Ed. Masri Singarimbun dan Sofian Effendi. Jakarta: LP3ES.

Krikelas, James (1983). Information Seeking Behavior – Pattern and Concepts. Drexel Library Quarterly, 19(2):5-20.

Pfeister,Susan Selby (1981). Information needs and information seeking behavior of book publishing industry personnel. Ann.Arbor. Michigan,University Microfilm International (Thesis Columbia University).

Purnomowati,Sri [et.al].(1995). Laporan Penelitian kebutuhan informasi dan perilaku pencarian informasi tenaga penelitian dan pengembangan di kalangan Industri Strategis.Jakarta: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia-Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah.

UNISIST. (1981).Guidelines on studies of information users (pilot version). Paris: United National Educational,Scientific and Cultural Organization.

Direktori Kegiatan Penelitian di lembaga-lembaga penelitian Departemen, non-Departemen,Perguruan Tinggi dan Perusahaan Negara/Swasta. Jakarta: Biro Koordinasi dan Kebijaksanaan Ilmiah; Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, 1984.

Direktori Industri Pengolahan. Jakarta: Biro Pusat Statistik, 1998: 921 hal.

Keadaan Angkatan Kerja di Indonesia, Agustus 1998. Jakarta: Biro Pusat Statistik Februari 1999.

Direktori Laboratorium Penguji di Indonesia, 1992. Jakarta: Dewan Standardisasi Nasional,Sekretariat:Pusat Standardisasi-LIPI, 1992.133 hal.

Direktori Lembaga-lembaga Penelitian Indonesia. Edisi ke-2. Jakarta: Kantor Menteri Negara Riset dan teknologi; Sekretariat Dewan Riset Nasional; Desember 1996.351 hal.

Indikator Ilmu Pengetahuan dan Teknologi,Edisi ke-2, 1994, Jakarta: Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT); kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi (KMNRT); Pusat Analisa dan Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan teknologi (PAPIPTEK-LIPI); Maret 1995: 143 hal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: